MAKALAH
EVALUASI HASIL BELAJAR
Diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah
Psikologi Belajar
Duisusun oleh :
Ernawati
NPM : 12.03.2790
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM DARUSSALAM ( IAID )
CIAMIS
– JAWA BARAT
2013
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang Alhamdulillah
tepat pada waktunya.
Makalah
ini berisikan tentang hal-hal mengenai Evaluasi Hasil Belajar, Diharapkan
makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua mengenai cara mengevaluasi anak didik kita.
Kami
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir
kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT
senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.
Ciamis, 18 Desember 2013
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Evaluasi merupakan suatu proses
perencanaan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk
membuat alternatif keputusan. Setiap kegiatan evaluasi atau penilaian merupakan
suatu proses yang sengaja dirancang untuk memperoleh informasi atau data;
berdasarkan data tersebut kemudian dicoba membuat suatu keputusan. Data yang
dikumpulkan sudah barang tentu sesuai dan mendukung tujuan evaluasi
yang direncanakan.
Dalam mengevalusi, harus
mempunyai syarat-syarat dan tujuan yang harus di jadikan acuan agar tidak
terjadi kesalahan. Evaluasi harus terperinci dan dapat dipertanggungjawabkan
dalam pelaksanaannya. Dalam evaluasi semestinya harus memenuhi syarat-syarat
yang dijadikan acuan agar tepat sasaran.
B.
Rumusan Masalah
Adapun
rumusan dalam penulisan makalah ini menjelaskan :
1.
Apakah
definisi evalusi ?
2.
Apakah
tujuan dari evaluasi ?
3.
Apakah
fungsi evaluasi ?
4.
Apakah
Ragam evaluasi ?
5.
Apakah
Ragam alat evaluasi ?
6.
Apakah
Sayart alat evaluasi ?
C.
Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini kami harapakan akan memberikan
pengetahuan dan wawasan bagi para pembaca dan khususnya kami selaku penyusun
makalah, agar dapat mengamalkannya.
BAB II
PEMBAHASAN
Evaluasi secara singkat juga dapat didefinisikan
sebagai proses mengumpulkan informasi untuk mengetahui pencapaian belajar kelas
atau kelompok. Hasil evaluasi diharapkan dapat mendorong guru untuk mengajar
lebih baik dan mendorong peserta didik untuk belajar lebih baik. Jadi, evaluasi
memberikan informasi bagi kelas dan guru untuk meningkatkan kualitas proses
belajar mengajar. Informasi yang digunakan untuk mengevaluasi program
pembelajaran harus memiliki kesalahan sekecil mungkin. Evaluasi pada dasarnya adalah
melakukan judgment terhadap hasil penilaian, maka kesalahan pada penilaian
dan pengukuran harus sekecil mungkin.
B.
Tujuan
Evaluasi
Tujuan yanag akan dicapai dalam
melaksanakan evaluasi adalah:
1.
Untuk mengetahui kemajuan belajar
siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
2.
Untuk mengetahui efektifitas
metode pembelajaran.
3.
Kedudukan siswa dalam
kelompok.
4.
Memperoleh masukan atau umpan
balik bagi guru dan siswa dalam rangka pembelajran.
5.
Memantau kemajuan dan
mendiagnosis kesulitan siswa sehingga memungkinkan dilaksanakannya pengayaan
dan remediasi untuk memenuhi kebutuhan siswa.
6.
Membentuk masukan kepada guru
untuk memperbaiki program pembelajarannya di kelas.
7.
Memungkinkan siswa mencapai
kompetensi yang telah ditentukan waktu dan kecepatan yang berbeda.
8.
Memberikan informasi yang
lebih komulatif kepada masyarakat tentang efektifitas pendididkan sehingga
meningkatkan partisipasi.
C.
Fungsi
Evaluasi
Fungsi evaluasi yaitu sebagai
berikut:
1. Evaluasi
berfungsi selektif
Evaluasi yang di gunakan untuk
memilih siswa yang paling
tepat sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu. Evaluasi sendiri memiliki berbagai tujuan, anatara lain:
tepat sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu. Evaluasi sendiri memiliki berbagai tujuan, anatara lain:
1) untuk
memilih siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu.
2) untuk
memilih siswa yang naik kelas atau tingkat berikutnya.
3) untuk
memi8lih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.
2. Evaluasi
berfungsi diagnostic
Dengan mengadakan evaluasi,
sebenarnya guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan
kelemahannya beserta faktor-faktor penyebabnya.
3.
Evaluasi berfungsi sebagai
penempatan
Evaluasi yang digunakan untuk
menempatkan siswa dalam program pendidikan tertentu yang sesuai dengan
karakteristik siswa. Sekelompok siswa yang memiliki hasil belajar yang sama
akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.
4.
Evaluasi berfungsi sebagai pengukur
keberhasilan
Fungsi keempat dari evaluasi ini
dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan.
D.
Ragam Evaluasi
Pada prinsipnya, evaluasi hasil
belajar merupakan kegiatan berencana dan berkesinambungan.
1.
Pretest dan posttest
Kegitan pretest dilakukan guru
secara rutin pada setiap akan memulai penyajian materi terbaru.
Post test adalah kebalikan dari
pre test , yakni kegiatan evaluasi yang dilaksanakan guru pada setiap akhir
penyajian materi.
2.
Evaluasi bersyarat
Evaluasi jenis ini sangat mirip dengan
pretest.
3.
Evaluasi Diagnostik
Evaluasi jenis ini dilakukan
setelah selesai penyajian sebuah satuan pelajaran dengan tujuan
mengidentifikasi bagian – bagian tertentu yang belum dikuasai siswa
4.
Evaluas Formatif
Evaluasi jenis ini dapat dipandang
sebagai “ulangan” yang dilakukan pada setiap akhir penyajian suatu pelajaran
atau modul.
5.
Evaluasi Sumatif
Ragam penilaian sumatif dapat
dianggap sebagai ulangan umum yang dilakukan untuk mengukur kinerja akademik
atau prestasi belajar siswa pada akhir periode pelaksanaan program pengajaran.
6.
Ujian Akhir Nasional (UAN)
Ujian Akhir Nasional ( UAN ) yang
dulu disebut EBTANAS ( Evaluasi Belajar tahap akhir Nasional ) pada prinsipnya
sama dengan evaluasi sumatif dalam arti sebagai alat penentu kanaikan status
siswa.
E.
Ragam alat evaluasi
Muhibbinsyah
(2003 : 201) menggolongkan teknik evaluasi ke dalam pembagian ragam alat
evaluasi. Menurutnya secara garis besar ragam alat evaluasi terdiri atas dua
macam bentuk, yaitu :
1. Bentuk objektif;
Bentuk ini lazim disebut tes objektif, yakni tes yang
jawabannya dapat diberi skor nilai secara lugas (seadanya) menurut pedoman yang
ditentukan sebelumnya. Ada lima macam yang termasuk dalam evaluasi ragam
objektif ini.
1.Tes Benar-
Salah
Tes ini
merupakan alat evaluasi yang paling bersahaja baik dalam hal susunan item-itemnya
maupun dalam hal cara menjawabnya. Soal-soal dalam tes ini berbentuk pernyataan
yang pilihan jawabannya hanya dua macam, yakni “B” jika pernyataan tersebut
benar dan “S” jika salah. Apabila soal-soalnya disusun dalam bentuk pertanyaan,
biasanya alternatif jawaban yang harus dipilih adalah “ ya” atau “ tidak”.
Dalam dunia pendidikan modern, tes semacam
itu sudah lama ditinggalkan karena dua alasan :
a. Tes “ B-S” tidak menghargai kreativitas akal siswa karena
mereka hanya didorong untuk memilih sekenanya salah satu dari dua
alternatif yang ada.
b. Tes “B-S” dalam beberapa segi tertentu dianggap sangat
rendah tingkat reliabilitasnya. Meskipun demikian, tes “ B-S “ ini juga
memiliki manfaat yang tidak dapat diremehkan antara lain:
a) Tes “ B-S “ ini mendorong siswa /peserta didik untuk
berpikir kritis dan berhati-hati dalam menjawab, karena biasanya poin nilai
yang diberikan biasanya adalah satu yang berarti apabila salah memilih maka
point nilainya akan hilang.
b) Tes “B-S “ ini memudahkan bagi pendidik /guru untuk memeriksa
jawaban dengan cepat karena jawaban yang dirancang juga pasti.
c) Dalam merancang tes ini sebenarnya tidak mudah, seorang
pendidik/guru harus benar benar memikirkan soal-soal yang sesuai dengan
validitas dan reliabilitasnya.
2. Tes Pilihan
Berganda
Item-item (butir-butir soal) dalam tes pilihan berganda (multiple
choice) biasanya berupa pertanyaan atau pernyataan yang dapat dijawab
dengan memilih salah satu dari empat atau lima alternatif jawaban yang
mengiringi setiap soal. Cara yang sangat lazim dilakukan adalah dengan
memberikan tanda silang(X) pada salah satu huruf, a, b,c,d atau e yang menandai
alternatif jawaban yang benar.
Contoh :
Ada berapa
benua di dunia :
a.
dua b.
tiga. c.
empat d.
lima e.
enam
Pada zaman modern sekarang ini, dunia pendidikan
khususnya di Barat sudah mulai meninggalkan tes pilihan berganda
kecuali untuk keperluan-keperluan di luar pengukuran prestasi
belajar. Alasan-alasan mereka meninggalkan jenis tes ini ialah :
a. Kurang mendorong kreativitas ranah cipta dan karsa siswa,
karena mereka diminta berspekulasi yakni menebak dan menyilang secara
untung-untungan.
b. Sering terdapat dua jawaban (di antara empat atau lima
alternatif) yang identik atau sangat mirip, sehingga terkesan kurang diskriminatif.
c. Sering terdapat satu jawaban yang sangat mencolok
kebenarannya, sehingga jawaban-jawaban lainnya terlalu gampang untuk
ditinggalkan. Namun demikian, sampai batas tertentu tes pilihan berganda masih
dipakai untuk mengevaluasi prestasi belajar siswa dengan catatan ,
penyusunannya dilakukan secara ekstra cermat. Dalam hal ini, guru seharusnya
berusaha sebaik-baiknya untuk menghindari kelemahan kelemahan di atas.
3. Tes
Pencocokan (Menjodohkan)
Tes pencocokan
(matching test) disusun dalam dua daftar yang masing-masing memuat kata,
istilah atau kalimat yang diletakkan bersebelahan. Tugas siswa dalam menjawab
item item soal ialah mencari pasangan yang selaras antara kalimat atau istilah
yang ada pada daftar A (berisi item-item yang ditandai dengan nomor urut
1 sampai 10
dan seterusnya sesuai dengan kebutuhan) dengan daftar B terdiri atas item-item
yang ditandai huruf a,b,c dan seterusnya. Untuk menjaga mutu reliabilitas dan
validitasnya, salah satu daftar instrumen evaluasi di atas sebaiknya ditambah
sekitar 10% sampai 20%. Dengan demikian, kemungkinan siswa menebak
semaunya pada saat mengerjakan satu atau dua soal yang terakhir dapat
dihindari.
4. Tes Isian
Alat tes isian biasanya berbentuk cerita atau karangan
pendek, yang pada bagianbagian yang memuat istilah atau nama tertentu
dikosongkan. Tugas siswadalam hal ini berpikir untuk menemukan kata-kata yang
relevan dengan karangan tersebut. Lalu kata-kata itu dituliskan pada
titik-titik atau ruang kosong yang terdapatpada badan karangan tadi. Untuk memperjelas
uraian mengenai tes isian itu, selanjutnya disajikan contoh paling sederhana di
bawah ini.
Contoh :
“ Isilah titik-titik di bawah ini dengan kata-kata yang
benar!
“ Atas berkat rahmat……… Yang Maha Kuasa dan
dengan didorongkan oleh keinginan …………supaya berkehidupan kebangsaan
yang…………..,maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini……………….”
5. Tes Melengkapi
Cara menyelesaikan tes melengkapi pada dasarnya sama
dengan menyelesaikan tes isian. Perbedaannya terletak pada kalimat-kalimat yang
digunakan sebagai instrumen. Dalam tes melengkapi, kalimat-kalimat itu tidak
disusun dalam bentuk karangan atau cerita pendek tetapi dalam bentuk yang
masing-masing berdiri sendiri.
Sebagai contoh, berikut ini disajikan salinan teks
proklamasi dalam ejaan aslinya.
Petunjuk !
“ Isilah
titik-titik yang ada pada setiap kalimat du bawah ini dengan kata-kata yang
sesuai!”
PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan……………
Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l…………. dengan tjara
seksama dan dalam tempo jang sesingkat singkatnja.…….., hari 17 boelan
8tahoen’45 Atas nama ………Indonesia…………/Hatta
b. Bentuk Subyektif
Alat evaluasi yang berbentuk tes subyektif adalah alat
pengukur prestasi belajar yang jawabannya tidak dinilai dengan skor atau angka
pasti, seperti yang digunakan untuk evaluasi obyektif. Hal ini disebabkan
banyaknya ragam gaya jawaban yang diberikan oleh para siswa. Instrumen evaluasi
mengambil bentuk essay examination, yakni soal ujian
mengharuskan siswa menjawab setiap pertanyaan dengan cara menguraikan atau
dalam bentuk karangan bebas. Banyak ahli menganggap evaluasi subyektif itu
sukar sekali dipercaya reliabilitas dan validitasnya, karena subyektivitas guru
penilainya lebih menonjol (Suryabrata, 1984 : 67). Contoh; sebuah esai jawaban
yang hari ini diberi nilai 70, mungkin dua minggu yang akan datang, jika
diperiksa lagi akan diberi nilai 60 atau 80. Namun demikian, menghindari
pemakaian tes subyektif (essay test) hanya karena alasan subyektivitas
guru adalah suatu tindakan yang berlawanan dengan perkembangan modrenisasi
pendidikan. Tes esai ini lebih populer di manamana khususnya di negara-negara
maju, mengingat keunggulannya yang sulit ditandingi terutama oleh instrumen tes
B-S dan pilihan berganda yang sering mendorong siswa bermain tebak-tebakan atau
“menghitung kancing” itu. Ada beberapa keunggulan tes esai yang secara implisit
diakui juga oleh Suryabrata (1984 :68), yakni bahwa :
a. Tes esai tidak hanya mampu mengungkapkan materi hasil
jawaban siswa tetapi juga cara atau jalan yang ditempuh untuk memperoleh
jawaban itu.
b. Tes esai dapat mendorong siswa untuk berpikir kreatif,
kritis, bebas, mandiri, tetapi tanpa melupakan tanggung jawab. Mengenai sikap
subyektif guru penilai tidak perlu menjadi halangan penggunaan tes ini, sebab
seperti objektivitas, subjektivitas juga ada batasnya. Persoalannya sekarang
adalah bagaimana kita mencetak guru profesional dalam arti luas dan
komprehensif termasuk dalam hal evaluasi prestasi belajar para siswanya.
F. SYARAT ALAT EVALUASI
Langkah
pertama yang perlu ditempuh guru dalam menilai prestasi belajar siswa adalah
menyusun alat evaluasi (test instrument) yang sesuai dengan kebutuhan
dalam arti tidak menyimpang dari indikator dan jenis prestasi yang diharapkan.
Persyaratan pokok penyusunan alat evaluasi yang baik dalam persfektif psikologi
belajar (Thepsychology of learning) melihat dua macam, yakni : 1)
reliabilitas; 2) validitas (Butler, 1990 :98). Persyaratan lainnya adalah
objektif, diskriminatif dan sebagainya yang dikemukakan oleh kebanyakan
penyusun buku psikologi pendidikan dan buku ilmu-lmu kependidikan pada
umumnya. Reliabilitas secara sederhana berarti tahan uji atau
dapat dipercaya. Sebuah alat evaluasi dipandang reliabel atau tahan uji,
apabila memiliki konsistensi (ketetapan) dan keajegan hasil. Artinya apabila
alat itu diujikan kepada kelompok siswa pada waktu tertentu menghasilkan
prestasi “ X “, maka prestasi yang sama atau hampir sama dengan “ X “ itu dapat
pula dicapai kelompok siswa tersebut setelah diuji ulang dengan alat yang sama
pada waktu yang lain.
Validitas pada prinsipnya berarti keabsahan atau kebenaran. Sebuah
alat evaluasi dipandang valid (absah) apabila dapat mengukur apa yang
seharusnya diukur. Contohnya, apabila sebuah alat evaluasi bertujuan mengukur
prestasi belajar matematika, maka item-item dalam alat itu hendaknya hanya
direkayasa untuk mengukur kemampuan matematis para siswa. Kemampuan kemampuan
lainnya yang tidak relevan, seperti kemampuan dalam bidang bahasa, IPS dan
sebagainya tidak perlu diukur oleh instrumen evaluasi matematika tersebut.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Penilaian
merupakan upaya sistematis yang dikembangkan oleh suatu institusi pendidikan
yang ditujukan untuk menjamin tercapainya kualitas proses pendidikan serta
kualitas kemampuan peserta didik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Prinsip penilaian yang penting yaitu: akurat, ekonomis, dan mendorong peningkatan kualitas pembelajaran. Akurat berarti penilaian mengandung kesalahan sekecil mungkin, ekonomis; berarti sistem pembelajaran mudah dilakukan dan murah. Sistem yang digunakan harus mendorong peningkatan kualitas.
Prinsip penilaian yang penting yaitu: akurat, ekonomis, dan mendorong peningkatan kualitas pembelajaran. Akurat berarti penilaian mengandung kesalahan sekecil mungkin, ekonomis; berarti sistem pembelajaran mudah dilakukan dan murah. Sistem yang digunakan harus mendorong peningkatan kualitas.
Oleh karena itu penting sekalai adanya evaluasi dalam pendidikan, agar dapat mengetahui hasil belajar pada anak. Supaya para guru, orang tua dapat mengetahui hasil prestasi pada anaknya.
DAFTAR PUSTAKA
Drs. Slameto, 2010 Belajar dan Faktor – factor yang
mempengaruhinya. Jakarta PT RINEKA CIPTA