Jumat, 03 Januari 2014


MAKALAH
EVALUASI HASIL BELAJAR

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Psikologi Belajar


           




Duisusun oleh :
Ernawati
NPM : 12.03.2790


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM ( IAID )
CIAMIS – JAWA BARAT
2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya.
Makalah ini berisikan tentang hal-hal mengenai Evaluasi Hasil Belajar,  Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua mengenai cara mengevaluasi anak didik kita.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.








Ciamis, 18 Desember 2013



Penyusun
BAB I
                                                       PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Evaluasi merupakan suatu proses perencanaan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif keputusan. Setiap kegiatan evaluasi atau penilaian merupakan suatu proses yang sengaja dirancang untuk memperoleh informasi atau data; berdasarkan data tersebut kemudian dicoba membuat suatu keputusan. Data yang dikumpulkan sudah barang tentu  sesuai dan mendukung tujuan evaluasi yang direncanakan.
Dalam mengevalusi, harus mempunyai syarat-syarat dan tujuan yang harus di jadikan acuan agar tidak terjadi kesalahan. Evaluasi harus terperinci dan dapat dipertanggungjawabkan dalam pelaksanaannya. Dalam evaluasi semestinya harus memenuhi syarat-syarat yang dijadikan acuan agar tepat sasaran.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan dalam penulisan makalah ini menjelaskan :
1.      Apakah definisi evalusi ?
2.      Apakah tujuan dari evaluasi ?
3.      Apakah fungsi evaluasi ?
4.      Apakah Ragam evaluasi ?
5.      Apakah Ragam alat evaluasi ?
6.      Apakah Sayart alat evaluasi ?

C.    Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini kami harapakan akan memberikan pengetahuan dan wawasan bagi para pembaca dan khususnya kami selaku penyusun makalah, agar dapat mengamalkannya.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Evaluasi
Evaluasi secara singkat juga dapat didefinisikan sebagai proses mengumpulkan informasi untuk mengetahui pencapaian belajar kelas atau kelompok. Hasil evaluasi diharapkan dapat mendorong guru untuk mengajar lebih baik dan mendorong peserta didik untuk belajar lebih baik. Jadi, evaluasi memberikan informasi bagi kelas dan guru untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Informasi yang digunakan untuk mengevaluasi program pembelajaran harus memiliki kesalahan sekecil mungkin. Evaluasi pada dasarnya adalah melakukan judgment terhadap hasil penilaian, maka kesalahan pada penilaian dan pengukuran harus sekecil mungkin.

B.     Tujuan Evaluasi
Tujuan yanag akan dicapai dalam melaksanakan evaluasi adalah:
1.      Untuk mengetahui kemajuan belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
2.       Untuk mengetahui efektifitas metode pembelajaran.
3.       Kedudukan siswa dalam kelompok.
4.       Memperoleh masukan atau umpan balik bagi guru dan siswa dalam rangka pembelajran.
5.       Memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan siswa sehingga memungkinkan dilaksanakannya pengayaan dan remediasi untuk memenuhi kebutuhan siswa.
6.       Membentuk masukan kepada guru untuk memperbaiki program pembelajarannya di kelas.
7.       Memungkinkan siswa mencapai kompetensi yang telah ditentukan waktu dan kecepatan yang berbeda.
8.       Memberikan informasi yang lebih komulatif kepada masyarakat tentang efektifitas pendididkan sehingga meningkatkan partisipasi.

C.      Fungsi Evaluasi
Fungsi evaluasi yaitu sebagai berikut:
1.    Evaluasi berfungsi selektif
Evaluasi yang di gunakan untuk memilih siswa yang paling
tepat sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu. Evaluasi sendiri memiliki berbagai tujuan, anatara lain:
1)      untuk memilih siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu.
2)      untuk memilih siswa yang naik kelas atau tingkat berikutnya.
3)      untuk memi8lih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.
2.      Evaluasi berfungsi diagnostic
Dengan mengadakan evaluasi, sebenarnya guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya beserta faktor-faktor penyebabnya.
3.      Evaluasi berfungsi sebagai penempatan
Evaluasi yang digunakan untuk menempatkan siswa dalam program pendidikan tertentu yang sesuai dengan karakteristik siswa. Sekelompok siswa yang memiliki hasil belajar yang sama akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.
4.      Evaluasi berfungsi sebagai pengukur keberhasilan
Fungsi keempat dari evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan.

D.    Ragam Evaluasi
Pada prinsipnya, evaluasi hasil belajar merupakan kegiatan berencana dan berkesinambungan.
1.      Pretest dan posttest
Kegitan pretest dilakukan guru secara rutin pada setiap akan memulai penyajian materi terbaru.
Post test adalah kebalikan dari pre test , yakni kegiatan evaluasi yang dilaksanakan guru pada setiap akhir penyajian materi.
2.         Evaluasi bersyarat
Evaluasi jenis ini sangat mirip dengan pretest.


3.      Evaluasi Diagnostik
Evaluasi jenis ini dilakukan setelah selesai penyajian sebuah satuan pelajaran dengan tujuan mengidentifikasi bagian – bagian tertentu yang belum dikuasai siswa
4.      Evaluas Formatif
Evaluasi jenis ini dapat dipandang sebagai “ulangan” yang dilakukan pada setiap akhir penyajian suatu pelajaran atau modul.
5.      Evaluasi Sumatif
Ragam penilaian sumatif dapat dianggap sebagai ulangan umum yang dilakukan untuk mengukur kinerja akademik atau prestasi belajar siswa pada akhir periode pelaksanaan program pengajaran.
6.      Ujian Akhir Nasional (UAN)
Ujian Akhir Nasional ( UAN ) yang dulu disebut EBTANAS ( Evaluasi Belajar tahap akhir Nasional ) pada prinsipnya sama dengan evaluasi sumatif dalam arti sebagai alat penentu kanaikan status siswa.

E.     Ragam alat evaluasi
Muhibbinsyah (2003 : 201) menggolongkan teknik evaluasi ke dalam pembagian ragam alat evaluasi. Menurutnya secara garis besar ragam alat evaluasi terdiri atas dua macam bentuk, yaitu :
1. Bentuk objektif;
Bentuk ini lazim disebut tes objektif, yakni tes yang jawabannya dapat diberi skor nilai secara lugas (seadanya) menurut pedoman yang ditentukan sebelumnya. Ada lima macam yang termasuk dalam evaluasi ragam objektif ini.
1.Tes Benar- Salah
Tes ini merupakan alat evaluasi yang paling bersahaja baik dalam hal susunan item-itemnya maupun dalam hal cara menjawabnya. Soal-soal dalam tes ini berbentuk pernyataan yang pilihan jawabannya hanya dua macam, yakni “B” jika pernyataan tersebut benar dan “S” jika salah. Apabila soal-soalnya disusun dalam bentuk pertanyaan, biasanya alternatif jawaban yang harus dipilih adalah “ ya” atau “ tidak”.

Dalam dunia pendidikan modern, tes semacam itu sudah lama ditinggalkan karena dua alasan :
a.       Tes “ B-S” tidak menghargai kreativitas akal siswa karena mereka hanya didorong untuk memilih sekenanya salah satu dari dua alternatif  yang ada.
b.      Tes “B-S” dalam beberapa segi tertentu dianggap sangat rendah tingkat reliabilitasnya. Meskipun demikian, tes “ B-S “ ini juga memiliki manfaat yang tidak dapat diremehkan antara lain:
a)      Tes “ B-S “ ini mendorong siswa /peserta didik untuk berpikir kritis dan berhati-hati dalam menjawab, karena biasanya poin nilai yang diberikan biasanya adalah satu yang berarti apabila salah memilih maka point nilainya akan hilang.
b)      Tes “B-S “ ini memudahkan bagi pendidik /guru untuk memeriksa jawaban dengan cepat karena jawaban yang dirancang juga pasti.
c)      Dalam merancang tes ini sebenarnya tidak mudah, seorang pendidik/guru harus benar benar memikirkan soal-soal yang sesuai dengan validitas dan reliabilitasnya.
2. Tes Pilihan Berganda
Item-item (butir-butir soal) dalam tes pilihan berganda (multiple choice) biasanya berupa pertanyaan atau pernyataan yang dapat dijawab dengan memilih salah satu dari empat atau lima alternatif jawaban yang mengiringi setiap soal. Cara yang sangat lazim dilakukan adalah dengan memberikan tanda silang(X) pada salah satu huruf, a, b,c,d atau e yang menandai alternatif jawaban yang benar.
Contoh :
Ada berapa benua di dunia  :
a. dua          b. tiga.         c. empat          d. lima            e. enam
Pada zaman modern sekarang ini, dunia pendidikan khususnya di Barat sudah mulai meninggalkan tes pilihan  berganda kecuali untuk keperluan-keperluan di luar pengukuran prestasi belajar.  Alasan-alasan mereka meninggalkan jenis tes ini ialah :
a.       Kurang mendorong kreativitas ranah cipta dan karsa siswa, karena mereka diminta berspekulasi yakni menebak dan menyilang secara untung-untungan.
b.      Sering terdapat dua jawaban (di antara empat atau lima alternatif) yang identik atau sangat mirip, sehingga terkesan kurang diskriminatif.
c.       Sering terdapat satu jawaban yang sangat mencolok kebenarannya, sehingga jawaban-jawaban lainnya terlalu gampang untuk ditinggalkan. Namun demikian, sampai batas tertentu tes pilihan berganda masih dipakai untuk mengevaluasi prestasi belajar siswa dengan catatan , penyusunannya dilakukan secara ekstra cermat. Dalam hal ini, guru seharusnya berusaha sebaik-baiknya untuk menghindari kelemahan kelemahan di atas.
3. Tes Pencocokan (Menjodohkan)
Tes pencocokan (matching test) disusun dalam dua daftar yang masing-masing memuat kata, istilah atau kalimat yang diletakkan bersebelahan. Tugas siswa dalam menjawab item item soal ialah mencari pasangan yang selaras antara kalimat atau istilah yang ada pada daftar A (berisi item-item yang ditandai dengan nomor urut
1 sampai 10 dan seterusnya sesuai dengan kebutuhan) dengan daftar B terdiri atas item-item yang ditandai huruf a,b,c dan seterusnya. Untuk menjaga mutu reliabilitas dan validitasnya, salah satu daftar instrumen evaluasi di atas sebaiknya ditambah sekitar 10% sampai 20%.  Dengan demikian, kemungkinan siswa menebak semaunya pada saat mengerjakan satu atau dua soal yang terakhir dapat dihindari.  
4. Tes Isian
Alat tes isian biasanya berbentuk cerita atau karangan pendek, yang pada bagianbagian yang memuat istilah atau nama tertentu dikosongkan. Tugas siswadalam hal ini berpikir untuk menemukan kata-kata yang relevan dengan karangan tersebut. Lalu kata-kata itu dituliskan pada titik-titik atau ruang kosong yang terdapatpada badan karangan tadi. Untuk memperjelas uraian mengenai tes isian itu, selanjutnya disajikan contoh paling sederhana di bawah ini.
Contoh :
“ Isilah titik-titik di bawah ini dengan kata-kata yang benar!
“ Atas berkat rahmat……… Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan …………supaya berkehidupan kebangsaan yang…………..,maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini……………….”
5. Tes Melengkapi
Cara menyelesaikan tes melengkapi pada dasarnya sama dengan menyelesaikan tes isian. Perbedaannya terletak pada kalimat-kalimat yang digunakan sebagai instrumen. Dalam tes melengkapi, kalimat-kalimat itu tidak disusun dalam bentuk karangan atau cerita pendek tetapi dalam bentuk yang masing-masing berdiri sendiri.
Sebagai contoh, berikut ini disajikan salinan teks proklamasi dalam ejaan aslinya.
Petunjuk !
“ Isilah titik-titik yang ada pada setiap kalimat du bawah ini dengan kata-kata yang sesuai!”
PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan…………… Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l…………. dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat singkatnja.…….., hari 17 boelan 8tahoen’45 Atas nama ………Indonesia…………/Hatta

b. Bentuk Subyektif
Alat evaluasi yang berbentuk tes subyektif adalah alat pengukur prestasi belajar yang jawabannya tidak dinilai dengan skor atau angka pasti, seperti yang digunakan untuk evaluasi obyektif. Hal ini disebabkan banyaknya ragam gaya jawaban yang diberikan oleh para siswa. Instrumen evaluasi mengambil bentuk essay examination, yakni soal ujian mengharuskan siswa menjawab setiap pertanyaan dengan cara menguraikan atau dalam bentuk karangan bebas. Banyak ahli menganggap evaluasi subyektif itu sukar sekali dipercaya reliabilitas dan validitasnya, karena subyektivitas guru penilainya lebih menonjol (Suryabrata, 1984 : 67). Contoh; sebuah esai jawaban yang hari ini diberi nilai 70, mungkin dua minggu yang akan datang, jika diperiksa lagi akan diberi nilai 60 atau 80. Namun demikian, menghindari pemakaian tes subyektif (essay test) hanya karena alasan subyektivitas guru adalah suatu tindakan yang berlawanan dengan perkembangan modrenisasi pendidikan. Tes esai ini lebih populer di manamana khususnya di negara-negara maju, mengingat keunggulannya yang sulit ditandingi terutama oleh instrumen tes B-S dan pilihan berganda yang sering mendorong siswa bermain tebak-tebakan atau “menghitung kancing” itu. Ada beberapa keunggulan tes esai yang secara implisit diakui juga oleh Suryabrata (1984 :68), yakni bahwa :
a.       Tes esai tidak hanya mampu mengungkapkan materi hasil jawaban siswa tetapi juga cara atau jalan yang ditempuh untuk memperoleh jawaban itu.
b.      Tes esai dapat mendorong siswa untuk berpikir kreatif, kritis, bebas, mandiri, tetapi tanpa melupakan tanggung jawab. Mengenai sikap subyektif guru penilai tidak perlu menjadi halangan penggunaan tes ini, sebab seperti objektivitas, subjektivitas juga ada batasnya. Persoalannya sekarang adalah bagaimana kita mencetak guru profesional dalam arti luas dan komprehensif termasuk dalam hal evaluasi prestasi belajar para siswanya.

F.     SYARAT ALAT EVALUASI
Langkah pertama yang perlu ditempuh guru dalam menilai prestasi belajar siswa adalah menyusun alat evaluasi (test instrument) yang sesuai dengan kebutuhan dalam arti tidak menyimpang dari indikator dan jenis prestasi yang diharapkan. Persyaratan pokok penyusunan alat evaluasi yang baik dalam persfektif psikologi belajar (Thepsychology of learning) melihat dua macam, yakni : 1) reliabilitas; 2) validitas (Butler, 1990 :98). Persyaratan lainnya adalah objektif, diskriminatif dan sebagainya yang dikemukakan oleh kebanyakan penyusun buku psikologi pendidikan dan buku ilmu-lmu kependidikan pada umumnya. Reliabilitas secara sederhana berarti tahan uji atau dapat dipercaya. Sebuah alat evaluasi dipandang reliabel atau tahan uji, apabila memiliki konsistensi (ketetapan) dan keajegan hasil. Artinya apabila alat itu diujikan kepada kelompok siswa pada waktu tertentu menghasilkan prestasi “ X “, maka prestasi yang sama atau hampir sama dengan “ X “ itu dapat pula dicapai kelompok siswa tersebut setelah diuji ulang dengan alat yang sama pada waktu yang lain. 

Validitas pada prinsipnya berarti keabsahan atau kebenaran. Sebuah alat evaluasi dipandang valid (absah) apabila dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Contohnya, apabila sebuah alat evaluasi bertujuan mengukur prestasi belajar matematika, maka item-item dalam alat itu hendaknya hanya direkayasa untuk mengukur kemampuan matematis para siswa. Kemampuan kemampuan lainnya yang tidak relevan, seperti kemampuan dalam bidang bahasa, IPS dan sebagainya tidak perlu diukur oleh instrumen evaluasi matematika tersebut.































BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Penilaian merupakan upaya sistematis yang dikembangkan oleh suatu institusi pendidikan yang ditujukan untuk menjamin tercapainya kualitas proses pendidikan serta kualitas kemampuan peserta didik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Prinsip penilaian yang penting yaitu: akurat, ekonomis, dan mendorong peningkatan kualitas pembelajaran. Akurat berarti penilaian mengandung kesalahan sekecil mungkin, ekonomis; berarti sistem pembelajaran mudah dilakukan dan murah. Sistem yang digunakan harus mendorong peningkatan kualitas.

Oleh karena itu penting sekalai adanya evaluasi dalam pendidikan, agar dapat mengetahui hasil belajar pada anak. Supaya para guru, orang tua dapat mengetahui hasil prestasi pada anaknya.



















DAFTAR PUSTAKA
Drs. Slameto, 2010 Belajar dan Faktor – factor yang mempengaruhinya. Jakarta PT  RINEKA CIPTA